Pukulan Palu

Foto: Pran

Di sini, langit begitu cembung, kebiru-biruan. Beberapa awan menggumpal terpisah. Meski siang hari tak mampu melihat matahari, kira-kira ketika gelap datang, Kau bakal pandangi lampu-lampu bertebaran menerangi langit. Bulat besar, yang kecil-kecil tersebar, bersama langit mengeja kegelapan.

Ketika kau berkunjung kemari musim kemarau, kau bakal dibuat kesal. Sebentar hujan, sebentar terang, tempat berpijak diguyur hujan, tujuan bersinggah malah matahari bersinar.

Malam-malam biasanya hujan lebat turun, daun kelapa terpontang-panting angin dan air hujan meraba tanah kedinginan. Tapi kau harus lihat bagaimana langit tetap terjaga kecembungannya di tengah hujan deras.

Apapun musimnya, semua tempat tak dikunjungi kesepian. Laut sekalipun, sampan melaut, nelayan pandai mengeja badai. Jadi bukan suatu masalah besar baginya. Para lelaki melaut meninggalkan anak istrinya. Tak jarang sebaliknya, mereka malah ditinggal anak atau istrinya jauh ke negeri seberang. Bagi mereka yang belum melaut, tentu berada di bukit pegunungan membelah batu-batu besar. 

“Tak tuk tak tuk!” 

Memang benar beberapa peladang pergi menunggangi punggung kuda. Tapi kali ini jangan kau kira suara kuda berlari. Bukan! Lengkingan itu berasal dari emak-emak pemecah batu. Suaranya berulang, terpental menghantam perbukitan. Di tempat inilah perempuan lihai memecah bongkahan batu.

Di antara pemecah batu, yang paling terkenal adalah Sukriah. 

Dia adalah Sukriah, perempuan paruh baya yang tinggal di tengah kepulauan. Sebagai orang pesisir, suaminya menghitung tanggalan hasil pemberian dari toko emas, untuk menetapkan kapan saja ia akan berlayar, kapan ia bakal pergi ke gunungan bukit. Melingkari angka hitam, tanda jika putra pertamanya bakal bertandang dari perjudian nasib di negeri orang, sebagai buruh migran. Berkat abangnya, anaknya yang terakhir merantau ke tanah jawa menginjakkan kaki di sekolah tinggi. 

Begitu sialnya Sukriah menghadapi kebahagiaan bersama kesepian, dengan bayang-bayang darah dagingnya. Sebagai Mamak, ia jelas tak ingin anaknya bernasib seperti dirinya.

“Aku harus ikhlaskan mereka!” Ia mencoba menghibur diri ketika kangen melanda perasaannya.

Mondar-mandir wajah buah hatinya, diselipkan pada janji Sukriah untuk mengabulkan pesanan batu. Begitulah Sukriah, orang mengenalnya sebagai seorang yang setia pada pekerjaannya. Berbeda dengan teman sebayanya, boro-boro mecah batu, meladang dan melaut bakal ditinggalkan jika anaknya berhasil berjudi nasib di negeri seberang. Tetapi tidak dengan Sukriah.

“Apa jadinya sebagai seorang kepulauan tanpa melaut, meladang dan memecah batu?” Begitulah Sukriah bertanya kembali ketika anak dan para tetangga membujuk Sukriah agar meninggalkan palunya.

“Itu menderita, payah, dan melelahkan.” 

“Dasar keras kepala!” Bujukan itu selalu berakhir cemoohan dari tetangganya.

Emak-emak pemecah batu lainya tidak bernasib buruk, tidak ada kehidupan yang menyedihkan di tengah kepulauan. Semua bersahaja, termasuk Sukriah dan teman-teman sepekerjaan. Dihimpit suara ketukan palu memukul batu, Sukriah terus meyakinkan temannya agar tidak meninggalkan dirinya sendirian sebagai pemecah batu.

Sukriah bertanya kepada teman-temannya. Mereka bekerja untuk siapa, apakah ia bakal meninggalkan pekerjaannya. Mereka selalu menjawab dengan kembali bertanya pada Sukriah, persis ketika Sukriah membantah khotbah bujukan untuk meninggalkan palunya. Dentang peraduan palu dengan batu dibarengi suara cempreng emak-emak tertawa, berdendang.

Rantang tergeletak di tepian pokok, semut hitam hilir mudik bertabrakan mengawasi celah-celah tutup rantang. Botol bekas berisi satu setengah liter air putih terjaga. Seorang perempuan paruh baya duduk bersilah kaki beralas tikar anyaman bambu. Sibuk merapal solawat nabi, ditemani dua perempuan sebayanya. Duduk berjauhan, di bawah teduh lembaran terpal yang terikat pohon di keempat ujungnya.

Gundukan batu, kanan dan kiri, dibaliknya lagi bersembunyi kebahagiaan yang sama. Sukriah meletakkan palunya, jari telunjuk ia acungkan ke arah gunungan batu. Ia tak sadar jika anyaman bambu, alas dudukya meninggalkan bekas pada betis Sukriah. 

“Kapal tak perlu mengangkut batu dari seberang!”

“Sepanjang jalan kepulauan tetap bisa dilewati!”

“Pondasi rumah sekuat keyakinan kita!”

Ceracau Sukriah, bibirnya tak bergeming, suasana kembali hening. Kedua teman Sukriah berhenti memukulkan palunya pada bongkahan batu. Keheranan dengan apa yang mereka lihat. Peluh hangat seketika menjadi dingin, tubuhnya bergetar. Peluh kembali keluar dari pojokan matanya. Ambrug, terhuyung ke samping. 

Semua warga kepulauan mendengaar kabar Sukriah. Warga yang memesan batu dibuatnya risau. Tak pandang uang, perasaan mereka begitu bersalah menyuruh wanita paruh baya itu tetap memecahkan batu untuk pembangunan rumah dan jalan.

Sukriah masih saja tak mau mengedipkan mata, dalam bayangan hitam ia masih saja tidak percaya atas apa yang dikatakan anak pertamanya lewat telepon semalam. Bahwa ia sedang mengirim mesin penggiling batu, tiga hari lagi akan sampai di kepulauan beserta pengemudi mesin dan montirnya.

Kabar kesehatan Sukriah sampai pada anaknya yang sedang mengais ilmu di Jawa langsung bertandang ke tanah kelahiran, menjenguk mamaknya. Di situlah Sukriah kembali mekar tersenyum, matanya berkedip mengeluarkan peluh.

“Nak, ingat Mamakmu ini! Tidak ada yang lebih berharga, selain tanah kelahiranmu.”

Sukriah, melihat peluh-peluh seharian bercucuran. Jasadnya membiru kaku, begitu tua senyumannya. Mengiringi ratusan langkah kaki, jasadnya melewati tiga onggok mesin penghancur batu. 

Gunungan bukit menyalami jasadnya, “Pergilah, kau biarkan aku ini dikeruk habis. Tanpa teman, tanpa pembelaan. Kejam kau, Sukriah!” 

Pukulan palu tak bergeming, kepongahan gunungan bukit meredam lengkingan pukulan palu yang beradu dengan batu. Emak-emak, kemana mereka perginya? Padahal gunungan pecahan batu tidak lagi berkarung-karung. Semua orang kehilangan Sukriah si pemecah batu itu, tapi rasa kehilangan itu tergiling bersamaan dengan batu pecah berkeping-keping digilas mesin. Tertindih pecahan batu kecil-kecil menyerupai gunung api.

Bah! Gunungan batu semakin hancur. Kini orang-orang mengambil batu tidak sesuai kebutuhan. Tidak seperti Sukriah dan kawananya, yang menggunakan palu itu.

Penulis: Yusuf Bastiar

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai