Arsip Penulis:Pran
Antara Petani dan Mangrove: Sepasang Sandal Kehidupan Saling Berdampingan
Desas-desus penambangan pasir liar di muara Sungai Opak sudah terdengar sejak tahun 2000-an. Aktivitas penambangan pasir liar ditolak dan dikecam keberadaanya oleh warga Kelurahan Srigading. Sebab, penambangan pasir di muara Sungai Opak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengakibatkan ekosistem hutan mangrove rusak bahkan mati karena terseret arus Sungai Opak sehingga mengakibatkan potensi abrasi besar-besaran. Lebih lagi,Lanjutkan membaca “Antara Petani dan Mangrove: Sepasang Sandal Kehidupan Saling Berdampingan”
Pukulan Palu
Di sini, langit begitu cembung, kebiru-biruan. Beberapa awan menggumpal terpisah. Meski siang hari tak mampu melihat matahari, kira-kira ketika gelap datang, Kau bakal pandangi lampu-lampu bertebaran menerangi langit. Bulat besar, yang kecil-kecil tersebar, bersama langit mengeja kegelapan. Ketika kau berkunjung kemari musim kemarau, kau bakal dibuat kesal. Sebentar hujan, sebentar terang, tempat berpijak diguyur hujan,Lanjutkan membaca “Pukulan Palu”
Sayoh!
Aku sedang menunggui sawah yang butir padinya menguning. Kira-kira tinggal dua pekan lagi padi bisa dipanen. Meski panen padi butuh waktu panjang, aku harus tetap menunggui sawah. Jika tidak, padi bisa habis digremusi hama. Sejak menebar benih hingga memanen, petani memang selalu berhadapan dengan ancaman. Padi yang siap mengenyangkan perut nusa bangsa itu harus akuLanjutkan membaca “Sayoh!”
Menilik Sepak Terjang Muhammadiyah dalam Sepak Bola Indonesia
Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi gerakan Islam terbesar di Indonesia telah banyak memberikan sumbangsih ke masyarakat Indonesia. Mulai dari bidang keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, serta pelayanan sosial. Hal tersebut dapat ditinjau dengan banyaknya amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar di seluruh Indonesia. Dihimpun dari artikel berjudul Kemandirian Keuangan Muhamadiyah tulisan Dr. Mukhaer Pakkanna, SE., MM.Lanjutkan membaca “Menilik Sepak Terjang Muhammadiyah dalam Sepak Bola Indonesia”
Aku adalah Perjudian Untukmu, Tuan
Setiap malam mencapai puncaknya, sepaket peso sadap dan arit beserta sarungnya sudah aku kaitkan di pinggang. Senter kepala aku lekatkan. Ini waktu yang tepat. Aku siap memburumu, Tuan Dewan yang terhormat. *** Kami, seharusnya menjadi petani penyadap karet. Tapi, tidak. Sekali-kali bukan karena kami tidak mau mencari tahu. Hutan-hutan yang memeluk desa tidak sedikitpun wargaLanjutkan membaca “Aku adalah Perjudian Untukmu, Tuan”
Owa Jawa, Primata Endemik yang Terancam Punah
Lebih dari 20 primata jenis owa tersebar di seluruh wilayah Asia, dan berdasarkan data International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), Owa Jawa merupakan satu dari tujuh jenis owa (gibbon) dalam suku Hylobatidae yang terdapat di Indonesia (IUCN, 2016). Owa Jawa atau Javan Gibbon (Hylobates Moloch) merupakan kera atau primata endemik anggotaLanjutkan membaca “Owa Jawa, Primata Endemik yang Terancam Punah”
Leluhurmu Sudah Mati, dan Kau Harus Sejahetra!
Ketika subuh begitu gelap. Ketika itu keringat basah tumpah di pelukan dingin. Dan aku lahir dari sayatan pisau penyadap di tubuh Mamak. Jiwaku keluar bersama getah. Orang-orang hidup, orang-orang bertengkar, orang-orang tersenyum karenaku. Kini orang-orang tak memiliki atas aku. Sepenuhnya aku dan tubuh Mamak dikuasai perusahaan karet. Aku dilupakan, sejak orang-orang bertubuh besar, berkulit putih,Lanjutkan membaca “Leluhurmu Sudah Mati, dan Kau Harus Sejahetra!”
Mamak
Tak ada alasan selain daripada menganggur tidak berpenghasilan. Jualan. Awalnya Mamakku hanya membawa beberapa bungkus tahu dua ribuan, sambil menjaga Adikku yang saat itu masih taman kanak-kanak. Tak disangka, makin lama makin banyak bungkusan yang dibawa, sampai keranjang putih itu terikat di boncengan sepeda. “Alhamdulillah, La, dagangan Mamak makin ramai, kalian yang manutan ya samaLanjutkan membaca “Mamak”
Suara Mbah Karto
Gemuruh yang menggelegar kala itu tak mampu mengantar tidur penduduk desa seperti biasanya. Angin riuhnya pun tak sempat membisikkan dongeng-dongeng utopia hari esok seperti yang sudah-sudah. Di bawah mendung pekat malam itu jantung setiap warga berkecamuk hebat. Ditambah sekerlip obor bambu yang berjalan kian kemari mengabarkan berita tentang rencana serangan penjajah akan menunda tidur nyenyakLanjutkan membaca “Suara Mbah Karto”