Pukulan Palu

Di sini, langit begitu cembung, kebiru-biruan. Beberapa awan menggumpal terpisah. Meski siang hari tak mampu melihat matahari, kira-kira ketika gelap datang, Kau bakal pandangi lampu-lampu bertebaran menerangi langit. Bulat besar, yang kecil-kecil tersebar, bersama langit mengeja kegelapan. Ketika kau berkunjung kemari musim kemarau, kau bakal dibuat kesal. Sebentar hujan, sebentar terang, tempat berpijak diguyur hujan,Lanjutkan membaca “Pukulan Palu”

Sayoh!

Aku sedang menunggui sawah yang butir padinya menguning. Kira-kira tinggal dua pekan lagi padi bisa dipanen. Meski panen padi butuh waktu panjang, aku harus tetap menunggui sawah. Jika tidak, padi bisa habis digremusi hama. Sejak menebar benih hingga memanen, petani memang selalu berhadapan dengan ancaman. Padi yang siap mengenyangkan perut nusa bangsa itu harus akuLanjutkan membaca “Sayoh!”

Aku adalah Perjudian Untukmu, Tuan

Setiap malam mencapai puncaknya, sepaket peso sadap dan arit beserta sarungnya sudah aku kaitkan di pinggang. Senter kepala aku lekatkan. Ini waktu yang tepat. Aku siap memburumu, Tuan Dewan yang terhormat. *** Kami, seharusnya menjadi petani penyadap karet. Tapi, tidak. Sekali-kali bukan karena kami tidak mau mencari tahu. Hutan-hutan yang memeluk desa tidak sedikitpun wargaLanjutkan membaca “Aku adalah Perjudian Untukmu, Tuan”

Leluhurmu Sudah Mati, dan Kau Harus Sejahetra!

Ketika subuh begitu gelap. Ketika itu keringat basah tumpah di pelukan dingin. Dan aku lahir dari sayatan pisau penyadap di tubuh Mamak. Jiwaku keluar bersama getah. Orang-orang hidup, orang-orang bertengkar, orang-orang tersenyum karenaku. Kini orang-orang tak memiliki atas aku. Sepenuhnya aku dan tubuh Mamak dikuasai perusahaan karet. Aku dilupakan, sejak orang-orang bertubuh besar, berkulit putih,Lanjutkan membaca “Leluhurmu Sudah Mati, dan Kau Harus Sejahetra!”

Mamak

Tak ada alasan selain daripada menganggur tidak berpenghasilan. Jualan. Awalnya Mamakku hanya membawa beberapa bungkus tahu dua ribuan, sambil menjaga Adikku yang saat itu masih taman kanak-kanak. Tak disangka, makin lama makin banyak bungkusan yang dibawa, sampai keranjang putih itu terikat di boncengan sepeda. “Alhamdulillah, La, dagangan Mamak makin ramai, kalian yang manutan ya samaLanjutkan membaca “Mamak”

Suara Mbah Karto

Gemuruh yang menggelegar kala itu tak mampu mengantar tidurĀ  penduduk desa seperti biasanya. Angin riuhnya pun tak sempat membisikkan dongeng-dongeng utopia hari esok seperti yang sudah-sudah. Di bawah mendung pekat malam itu jantung setiap warga berkecamuk hebat. Ditambah sekerlip obor bambu yang berjalan kian kemari mengabarkan berita tentang rencana serangan penjajah akan menunda tidur nyenyakLanjutkan membaca “Suara Mbah Karto”

Orang Asing

Berlakukah hukum rimba di tengah hiruk pikuk debu-debu perkotaan, entahlah! Hukum rimba saja aku tak faham betul untuk siapa. Apakah untuk manusia dengan manusia, apakah untuk manusia dengan hewan, apakah untuk hewan dengan hewan, apa sengaja dijadikan alasan untuk melawan tuhan! ā€œHusss jangan dipertanyakan, jangan sampai kau disangka tak bertuhan!ā€ diriku di alam lain memprotesLanjutkan membaca “Orang Asing”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai