Sayoh!

Aku sedang menunggui sawah yang butir padinya menguning. Kira-kira tinggal dua pekan lagi padi bisa dipanen. Meski panen padi butuh waktu panjang, aku harus tetap menunggui sawah. Jika tidak, padi bisa habis digremusi hama. Sejak menebar benih hingga memanen, petani memang selalu berhadapan dengan ancaman. Padi yang siap mengenyangkan perut nusa bangsa itu harus akuLanjutkan membaca “Sayoh!”

Aku adalah Perjudian Untukmu, Tuan

Setiap malam mencapai puncaknya, sepaket peso sadap dan arit beserta sarungnya sudah aku kaitkan di pinggang. Senter kepala aku lekatkan. Ini waktu yang tepat. Aku siap memburumu, Tuan Dewan yang terhormat. *** Kami, seharusnya menjadi petani penyadap karet. Tapi, tidak. Sekali-kali bukan karena kami tidak mau mencari tahu. Hutan-hutan yang memeluk desa tidak sedikitpun wargaLanjutkan membaca “Aku adalah Perjudian Untukmu, Tuan”

Leluhurmu Sudah Mati, dan Kau Harus Sejahetra!

Ketika subuh begitu gelap. Ketika itu keringat basah tumpah di pelukan dingin. Dan aku lahir dari sayatan pisau penyadap di tubuh Mamak. Jiwaku keluar bersama getah. Orang-orang hidup, orang-orang bertengkar, orang-orang tersenyum karenaku. Kini orang-orang tak memiliki atas aku. Sepenuhnya aku dan tubuh Mamak dikuasai perusahaan karet. Aku dilupakan, sejak orang-orang bertubuh besar, berkulit putih,Lanjutkan membaca “Leluhurmu Sudah Mati, dan Kau Harus Sejahetra!”

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai