
Tak ada alasan selain daripada menganggur tidak berpenghasilan. Jualan. Awalnya Mamakku hanya membawa beberapa bungkus tahu dua ribuan, sambil menjaga Adikku yang saat itu masih taman kanak-kanak.
Tak disangka, makin lama makin banyak bungkusan yang dibawa, sampai keranjang putih itu terikat di boncengan sepeda.
“Alhamdulillah, La, dagangan Mamak makin ramai, kalian yang manutan ya sama Mamak dan Bapak, itu semua untuk kalian.” Nasihat Mamak sambil menghitung uang dagangan. Maaf, Mak, saat itu aku masih goblok, tidak membuatkanmu teh hangat.
Sampai akhirnya almamater universitas bisa kupakai. Rambutnya, pipinya, usianya semakin menua, begitu juga dengan sepeda birunya. Gumamku yang masih santai duduk di tempat makan.
“Silahkan Mba, selamat menikmati.” Pelayan yang ramah. Entah apakah Dia bekerja supaya tidak terlihat seperti tuan di rumah tumpangannya, atau benar hanya karena orang tua.
Dihidangkannya sambal cores di atas ayam geprek. Ditambah lalapan dan nasi dengan ukuran. Melihatnya mulutku tutup rapat-rapat sampai menahan supaya suara air ludah yang kutelan tak terdengar. Malu aku, selalu dibelanjakan ketika diajak makan.
“Dimakan, Ras.” Ajak Hani, yang kupikir seorang mahasiswa beasiswa yang senasib dengan aku. Perilakunya yang lemah lembut dan gayanya yang sederhana, menyembunyikan kondisi keluarganya yang ternyata melebihi dugaanku.
“Iya, Han.” Jawabku singkat, yang masih menunggu Hani agar memakannya terlebih dahulu. Perasaan tidak enak, membuatku kikuk di depan temanku sendiri.
Makanan yang seharusnya kuanggap mewah itu, sekarang sudah biasa. Hingga penyesalan datang ketika teman membelanjakan. Lupa. Mamak yang hampir tiap hari menelan kapsul warungan, tanpa resep yang disarankan, akibat kelelahan karena tuntutan.
Ya, Mamakku adalah penjual tahu keliling. “Mak, kenapa Mamak jualan. Kan Bapak masih bisa jualan?” Tanya Adikku yang saat itu masih duduk di kelas satu SD, yang seharusnya butuh perhatian lebih dari Mamakku.
“Nduk, mamak jualan kan uangnya untuk jajan si Nduk. Si Nduk kan sekarang sudah SD, jadi harus belajar mandiri ya, sama Mba.” Jawab Mamakku yang saat itu masih menyiapkan jualannya pada sepeda tuanya.
Sepeda tua berwarna biru itu adalah sahabat setia Mamakku. Yang mungkin lebih setia daripada aku. Menemani ketika Mamakku bekerja dan meneduh dari hujan yang deras.
“Sudah makan La?” Suara Mamak yang terdengar samar dari speaker handphone-ku. “Sudah, Mak.” Jawabku singkat. “Masak apa beli?” sambungnya. Nada suaranya yang begitu berharap agar aku makan dari masakan sendiri. Hemat. “Dibelikan Hani, Mak.” Sahutku dengan penuh percaya diri.
Terdengar nafas yang panjang. Entah, perasaannya yang lega karena anaknya sudah makan, atau lebih ke perasaan takut kalau anaknya malu karena belum bisa mengirim uang kepadanya.
“Kenapa, Mak?” Tanyaku setelah mendengar nafas lelahnya itu. “Ndakpapa, Nduk. Alhamdulilah si Nduk dapat rezeki.” Mamakku menyembunyikannya dariku.
Hanya baling-baling modern itu yang menghiburku sekarang. Dengan suaranya yang seperti hujan datang. Menggantikan Temanku yang sudah pulang ke kampung halaman. Malam yang begitu menyedihkan bagi mahasiswa perantauan.
“Mengeluh, apa usahamu. Menyesal, kiranya apa yang kamu lakukan pasti kelewatan. Sedih, sedahsyat apa musibah itu. Sampai kau hanya bisa mengeluh!” Ucapnya di depan cermin milik teman sekamarnya, yang kebetulan tidak dibawa pulang.
Bunyi sanyo yang nyala pada pagi buta, sudah lama tak kudengar. Suara televisi yang menyala sebagai penunjuk waktu di rumahku, yang menjadi tanda Mamakku sudah bangun dari tidurnya. Di sini hanya menjadi cerita.
Bahkan dalam tidur dia selalu siaga. Kantung mata yang menghitam dan kendor sering kulihat dari mata kecilku saat itu.
“Mamak dan Bapak hanya ingin kamu ada perubahan setelah kamu belajar di sana. Bisa berguna di desa. Dan jangan lupa pelajari bahasa jawa kromo halus di sana.” Nasehatnya yang tak pernah bosan ia sampaikan kepada anaknya.
Lagi-lagi aku hanya bisa merenungi. Rugi sekali sialku. “Aishh, apakah aku tuan dalam rumah tumpangan itu.” Gumamku. Yang bodohnya minta layanan dari Si Tuan pemilik rumah.
Kuingat siang dengan angin yang menyejukkan. Kami duduk di teras milik Pakde. Aku yang saat itu masih libur menunggu hasil keputusan dari universitas yang aku idamkan. Mamakku yang perhatian. Menyisir rambutku yang pirang, dengan kakinya yang diselonjorkan.
Lebam yang ada di kaki sebelah kanan, tepat di betis bagian sampingnya terlihat jelas. Biru tua. “Kenapa kakinya, Mak?” Melihatnya wajahku kuatir. “Ndakpapa, Nduk.” Jawabnya seolah aku anak TK yang masih bisa dibohongi.
Tak habis pikir. Perasaanku yang semakin kuatir, mengarahkanku untuk melihat sepeda tua itu. Dan ya, pedal sepeda itu hancur. Besi penghubung jok sepeda dan setang terlihat bengkok.
Kembali kubertanya, “Mamak jatuh ya?” Mamak malah mengalihkannya, “Kamu sudah makan, Nduk?” Tanyanya. “Sudah, Mak.” Jawabku singkat. Tak selesai sampai di situ cerita dari Mamakku yang tangguh.
Tangannya yang halus sekarang kasar, sebab tak berhenti menari. Mencari uang untuk anak tersayang. Benjolan kecil warna coklat yang tidak sedikit itu. Ingatku sembari menyalahkan diri, yang tak kunjung merujuk untuk selalu berbakti.
Kamar ini sangatlah sepi. Aku berusaha menghindari kesendirian dalam pikiran. Takut teringat tuanya yang lelah. “Goblok, menghindari memperparah diri!” gumamku lagi.
Terdengar dari dalam kamar, seorang mahasiswa sama-sama perantauan menjajakan jualannya. Tak pernah sisa. Dia tak pulang mengingat rumahnya yang jauh di sebrang.
Menjadi inspirasiku di antara kegelisahanku selama ini. Membuatnya senang adalah misiku paling awal, sebagai mahasiswa yang baru hidup di perantauan.
Penulis: Larasati
Foto: Nori Febriana